that person like you

6 Feb

Buka mata, hati dan telingamu lihatlah sekelilingmu masih banyak hal yang lebih penting dari kata CINTA banyak hal yang menyengkan ketika kamu mulai mengenal dunia tanpa ada DIA di sisimu….
DIA hanya masa lalumu lupakan bayangannya tetapi jangan sekali kali kamu melupakan cintanya walau pun susah untuk melakukannya yakin kan saja di hatimu bahwa kamu BISA!
Diam…menatap langit yang biru dan luas, disinilah aku sering menghabiskan waktu setelah ia meninggalkanku dengan kenangan yang sangat sulit tuk dilupakan. Disinilah aku hanya bisa duduk termenung melihat sekitar yang sangat HAMPA, hidupku hampa semenjak ia hilang di hadapanku. Disinilah aku yang sering menghabiskan air mataku jatuh kepipi hanya untuk mengenangnya yang sudah pergi selamanya dari DUNIA. Sudah banyak cara untukku melupakannya namun hasilnya tetap saja nihil dia masih terus membayangiku. Aku lelah dengan semua ini ingin rasanya mengakhiri semua dan cepat bertemu denganmu namun tak bisa ternyata masih banyak orang yang membutuhkanku,masih ingin aku di dunia. Dan sekarang aku masih mancari seseorang yang bisa menyembuhkan ku dari keterpurukkan ini. Masih menunggu DISINI
“hhh” desahku, sudah berapa lama aku disini? Pasti Hyunsoo menungguku dirumah. Aku melirik kearah jam tangan merahku, aigoo sudah sore sekali kasihan Hyunsoo pasti dia sedang kerepotan sendiri. Aku pun segera pergi dan menuju halte bus. Tak lama bus datang dan aku segera naik, sangat penuh hari ini orang orang ingin segera pulang kerumahnya ku rasa, hingga kau tak mendapat tempat duduk, dengan terpaksa aku berdiri. Tiba tiba ada seorang pria yang berdiri dan menawarkanku tempat duduknya, “nona duduklah tak baik wanita berdiri” ucapnya ramah lalu tersenyum padaku aku pun membalas senyumannya. “ne..kamshamnida” ucapku berterima kasih, ia hanya menganggukkan kepalanya. Setelah sampai di tempat yang ku tuju yaitu aprtemenku dan Hyunsoo, kulihat pria yang memberikan tempat duduknya padaku ia melambaikan tangan kepadaku aku pun membalasnya.
“aku pulang” seruku dan langsung di sahuti oleh teriakkan Hyunsoo, “kau! Darimana saja? Lama sekali tau hah? Kau taktau aku kerepotan sendiri menyiapkan makan malam ini!” marahnya padaku
“mianhae Hyun..seharusnya tadi aku saja yang menyiapkan semuanya, mian kau menyesal” aku menundukkan kepalaku sungguh aku sangat menyesal sudah beberapa kali aku seperti ini, aku kasihan harus melihat sahabatku memasak makan malam kami. Hyunsoo mengangkat wajahku yang hampir menangis ini
“jangan bilang kau ingat lagi dengannya?”tanyanya. entah mengapa aku tidak bisa menahan air mataku yang tiba tiba turun, “aissh,sudahlah Hyeri jangan seperti ini, aku yakin dia tidak suka melihatmu terpuruk terus ia juga ingin melihatmu tersenyum seperti dulu tidak seperti ini, ini bukan Hyeri yang ku kenal, Hyeri yang kukenal adalah seorang wanita yang kaut dan sabar menghadapi masalah apapun, aku selalu bercerita padamu dan kamu selalu memberikan solusinnya padaku, tapi sekarang mana Hyeriku?” ucapnya Hyunsoo, tetapi aku hanya bisa diam dan menangis. Hyunsoo memelukku aku menangis di pelukannya hany dia yang aku butuhkan sekarang aku memang tinggal bersamanya semenjak aku pindah ke Seoul 5 tahun yang lalu awalnya kami hanya berteman di sekolah tapi kenyataanya orang tua Hyunsoo sudah mengenal orang tua ku dan akhirnya kami di sewakan apartemen untuk kami tinggalkan, orang tua ku sekarang berada di Australia dan orang tua Hyunsoo berada di Tokyo kami di percaya bisa hidup sendiri tanpa orang tua dan syukurlah hingga saat ini kami masih baik baik saja terkecuali aku yang terpuruk karena di tinggalkan oleh orang yang sangat penting dalam hidupku, kekasihku Jung Hyoson yang baru meninggalkan ku di dunia sekitar 3 bulan yang lalu dan sampai saat ini aku masih tidak bisa melupakanya, sangat sulit untuk melupakanya
“sudah jangan menangis lagi, sekarang kita makan. Aku tau kamu pasti lapar” Hyunsoo mengusap airmata ku dengan tanganya, “tapi sebaiknya kamu mandi dulu,arra?” ia membantuku bangun dan mengarahkanku ke arah kamar mandi
15 menit kemudian aku sudah bersih dan Hyunsoo pun sudah mempersiapkan semuanya
“Hyun-ah, gomawo kau selalu di sampingku saat bagaimana pun keadanku” aku memeluk sahabatku ini, sangat menyanginya. Tanpa terasa air mataku dan Hyuunsoo jatuh.
“yaa, Hyerin kau tega. Kau berhasil membuatku terharu dan menangis” omelnya padaku, aku tersenyum mendengarnya benar benar sahabat yang tau bagaimana diriku
“aisss,kenapa kita jadi diam saja? Kajja kita makan, nanti kalau tak cepat makanan yang ku buat sudaah tak cantik seperti yang membuatnya”ucapnya yang membuatkku gemas ingin mencubit pipinya. “ne…nyonya besar” jawabku
Selesai makan malam aku dan Hyunsoo duduk di ruang tv dan menonton drama. Kami memang hobbi menonton drama, tapi awalnya hanya Hyunsoo namun makin lama aku pun ikut menyukainya (=,=). Suasana sangat hening dan aku mulai membuka pembicaraan
“Hyun-ah, apa Sungmin mu masih di paris?” tanyaku, entah kenapa aku melontarkan pertanyaan ini
“ne… dia masih akan di sana sekitar 2minggu lagi” jawabnya, “hemm, waeyo Hye?” tanyanya lagi
“anniyo, aku hanya heran, apa kau tak merindukannya” aissh, Hyerin kenapa kau aneh sekali, gerutuku dalam hati
“kalau merindukanya, aku sangat merindukannya tapi apa boleh buat, kami sekarang mempunyai jarak yang sangat jauh untuk berkomunikasi, tapi ia mengusahakan agar selalu meghubungiku,kenapa kau menanyakan ini? Kau kenapa?” jelasnya. Aku hanya menggelangkan kepalaku, tanda tak ada apa apa
“gwencana?” tanyanya lagi, kali ini aku mengangguk pasti. “hemm arra arra” ucapnya menyerah, kami pun menikmati tontonan kami kembali
“Hyerin, besok kau pergi kemana?”tanya Hyunsoo, “anni, aku tidak kemana mana, waeyo?” tanyaku lagi, “jinjjayo?” ia memastika. “ne.. ada apa kau mau ketemani kemana?”tanyaku, aku sudah tau pasti kalau tiba tiba ia bertanya seperti inipasti ia ingin ku temani ke suatu tempat.
“ah, kau memang pintar, kau mau menemaniku bertemu dengan Gikwang besok lusa? Ia membawa temannya dan aku ingin mengenalkan temannya itu padamu” tuturnya padaku
“kenapa harus aku?”tanyaku, “karena kamu yang selalu bersamaku, kau dan Gikwang saling mengenalkan?”
“iya, tapi kenapa harus aku?, kenapa kau tak pergi sendiri?”
“Mwo? Kau tega dengan sahabatmu yang cantik ini? Nanti kalau aku kenapa kenapa kau mau bertanggung jawab?” katanya berlebihan
“kau sangat berlebihan Hyun-ah” ucapku sambil melenggang ke dapur
“itu kenyataan Hyerin kau jangan iri padaku, hahah”tawanya menggelegar
“kenyataan dalam mimpimu, benar?” ucapku yang berhasil membuat Hyunsoo berhenti tertawa
“ah,sudah jadi intinya besok kau menemaniku,arraseo” katanya dengan sedikit berteriak yang cukup membuat telingaku rusak
“ne…arra!” jawabku tak kalah kencang. Usai menonton drama kami pun lekas tidur
Esok paginya Hyunsoo bangun pagi sekali,dia sudah membersihkan apartemen ini. Dia memang sangat rajin cocok sekali dengan kekasihnya Sungmin sama sama rajin. Ddengan jalan gontay aku keluar kamarku dan bermalas malasan kembali di sofa. Tapi tidak seperti yang ku ingin kan, Hyunsoo berhasil menarikku dan menyuruhku mandi, dengan malas aku segera mandi.
“Hyerin cepat ganti bajumu,dandan yang cantik dan cepat sarapan” ucapnya mengingatkanku, dia sangat mirip dengan seorang ahjuma.
“ne…. eomma!” jawabku lalu kedengar ia marah hahaha aku hanya terkekeh melihat dia seperti itu, selesai berpakaian aku segera menuju meja makan dan ku lihat Hyunsoo sudah bersiap siap,
“kenapa lama sekali?”tanyanya aigoo hari ini dia sangat cerewet !
“waeyo? Aigoo kau cerewet sekali kau tau?” kataku ketus, “mwo? Apa katamu?” ia bertanya
“forget it!” kataku cepat, “kenapa buruburu sekali sih memangnya kau janji dengan temanmu jam berapa?”tanya ku lagi
“1 jam lagi, dia menunggu kita di tempat kami janjian” ucap Hyunsoo
“mwo? Kenapa pagi sekali?” protesku
“kenapa kau cerewet sekali hah?! Tadi kau yang bilang aku cerewet tapi sekarang siapa yang cerewet? Kau atau aku!” tantangnya
“aisssh, arraseo araseo. Aku mengerti, sudah lah lebih baik kita cepat au takut Gikwang marah karena kita terlambat” ucapku. Kami punsegera menghabiskan sarapan kami lalu pergi ketempat tujuan
Di kafe yang kami tuju ternyata ada seorang pria yang sedang menunggu dan sepertinya itu adalah teman Hyunsoo, Hyunsoo mendekatinya “Gikwang?” tanyanya, sontak yang di panggil namanya pun menoleh, “ah.. Hyunsoo?” tanyanya dan sekarang dengan posisi menghadap kearah kami
“ne.. mainhae aku datang terlambat” Hyunsoo meminta maaf sedangkan aku hanya melemparkan senyum padanya dan ia pun membalasnya.
“gwencana Hyun, dan kau Hyerin kan? Masih ingat denganku?” tanyanya
“ne.. aku masih ingat denganmu” jawabku
“baiklah, mana temanmu yang ingin kau perkenalkan padaku?”tanya Hyuna pada Gikwang
“ah, dia 5menit lagi akan datang kok, tenang saja” Gikwang memastikan, “ oah ya kalian ingin minum apa, pesan saja jangan sungkan ini adalah kefe milik hyungku Donghae, pasti pacaarmu mengenalnya Hyun” ucap Gikwang
“ah,ne..Sungmin oppa pernah bercerita tetang hyung mu Kwanggiie” jelas Hyunsoo
“ya! Jangan panggil aku dengan sebuta itu lagi aku sudah dewasa Hyun-yaa” kurasa Gikwang tak senag ketika ia di paggil Kwangiie olah Hyunsoo
“hahah biarkan saja, toh hanya aku kan yang memang bolaeh memanggilmu seperti ini Kwangiie” Hyunsoo meledek Gikwang, aku yang melihat adengan ini hanya bisa terkekeh.
5menit kemudian ada seoerang pria menghampiri kami bertiga
“Gikwang!” panggilnya kulihat ia dari jauh, ia melambaikan tanganya
“nah, itu dia temanku sudah datang” kata Gikwang. Sepertinya wajah itu tak asing lagi,sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana? Aisssh jinnja aku sangat lupa!
“ah sepertinya kita pernah bertemu di bis noona?” tanyanya,ah sekarang aku ingat dia adalah pria yang memberikan tampat duduknya untukku di bis, kebetulan sekali aku bertemu denganya
“ne.. kebetulan sekali kita bertemu” kataku ramah
“wow sepertinya kalian sudah saling mengenal?”tanya Hyunsoo sambil menyenggol tangganku, aku hanya menatapnya tajam
“nee! Sepertinya kalian sudah saling mengenal” tambah Gikwang, aishh anak ini ikut ikut saja
“anniyo, kami belum saling mengenal” ucap pria itu, “boleh berkenalan noona, Choi Minho imnida” ucapnya ramah dan megulurkan tangannya padaku, aku menyambutnya “Kim Hyerin imnida” balasku
“ah kalian ini ku kira kalian sudah saling mengenal, tapi tadi kalian pernah bertemu sepertinya?” tanya Hyunsoo, kali ini dia cerewet sekali.
“kami pernah bertemu di bis” jawab Minho dan aku pun menganggukkan tanda menyutujuinya. Kami pun saling mengobrol satu sama lain, dan ternyata Minho adalah orang yang pandai bergaul, buktinya saja baru beberapa menit aku berkenalan aku sudah seperti mengenal dia sangat lama.Hyunsoo dan Gikwang mulai sibuk dengan urusan mereka sedangkan Minho sedang asik menerima telfon sedari tadi, dan aku hanya banyak diam.
“Minho-ya, kau sepertinya sibuk sekali dengan telfon telfomu?”tanya Gikwang
“ah mianhae itu hnya dari teman kampus lamaku”jawabny lalu memasukan Hanphonenya kesaku
“sebaiknya kau mengajak Hyerin berjalan jalan, kasihan temanku ini sendirian, aku tidak bisa menemaninya karena kau tau kenapa kan?” ucap Hyunsoo. Mwo kenapa Hyunsoo berkata seperti itu?
“ah, ide bagus!” Minho sepertinya setuu dengan usul Hyunsoo, “bagaimana Hyerin apa kau mau berjalan jalan sekedar bersamaku?” ajakn Minho. Belum sempat aku menjawab Hyunsoo sudah mendahuluiku berbicara “ Hyerin kau pasti maukan? Aku tau kau sangat bosan disini” ucapnya sial kenapa ia harus bersikap seperti itu padaku, dengan tersenyum paksa aku mengiyakan ajakan Minho
“baiklah kami pergi dulu,kalau ingin menghubungi, hubungi saja aku” unjar Minho. Kami pun hemm maksudku aku dan Minho pun keluar dari kafe. Aku sangat lah canggung terhadap orang baru, aku hanya bisa diam dan menerima semua ajakan Minho, entah mengapa aku bisa menurut padanya
“Hyerin-ssi apa kau ingin ke sungai Han? Sepertinya disana sedang ramai apa kau mau?” tawarnya
“hemm,ne baiklah” kamin pun berjalan dari kafe hingga sungai Han jaraknya tidak terlalu jauh dari kafe itu hanya sekitar 500 meter
Setibanya di sungai Han keadaannya sangat lah ramai oleh pengunjung. “kurasa kita salah tempat Minho-ssi” tanyaku pada Minho
“ah, benar sekali terlalu ramai disini” unjarnya kecewa. Tiba tiba entah mengapa aku ingin mengajak Minho ketempat diamana biasanya aku menenangkan diri
“Minho-ssi, sebaiknya kita mencari tempat yang lain” usulku
“ah, benar.. tapi dimana?” tanyanya bingung, “aku tau tempat yang sangat sepi dan cocok untuk menenangkan diri” ucapku,”ne? Jinjjayo?” tanyanya penasaran,”ne..” jawabku. Lalu kami menuju tempat yang aku maksud
“nah, ini dia tempatnya. Bagaimana tenang bukan?” tanyaku, Minho mengangguk tanda setuju dengan ucapanku. “kau sering ke sini Hyerin?”tanya Minho padaku, aku hanya mengangguk.
“ehmmm…udaranya sangat sejuk, kau pintar memilih tempat untuk menenangkan diri kebetulan sekali aku ingin menenangkan diriku sejenak dari rutinitasku, aku lelah” unjurnya lalu merebahkan tubuhnya di rumput rumput dibawah pohon besar ini. “ne.. kamshamnida Minho-ssi” jawabku berterima kasih
“jangan terlalu formal Hyerin, kita ini hanya terpaut satu tahun tak usah terlalu formal, arraseo, panggil saja dengan nama ku atau kau bisa memanggilku oppa kalau kau mau” tawarnya
“ehm..ehm mianhae Minho” kataku meminta maaf. “ne..gwencana” jawabnya lalu terseyum padaku. Senyummnya manis. Dan suasanya menjadi hening tak ada yang berbicara hanya terdenga suara kicauan burung.
“Hyerin apa aku boleh bertanya?” Minho memulai pembicaraan
“hemm,silahkan saja” jawabku, “ kenapa kau sering ketempat ini? Apa kau mempunyai masalah yang besar hingga kau sering kesini?” tanyanya, aku terdiam lalu “kalau kau tak bisa bercerita tak masalah, jangan memaksakan” lanjutnya lagi, aku sangat regu untuk berbicaara sebenarnya namun entah mengapa mulutku seperti ingin saja berbicara padanya.
“ah, annniyo aku akan menceritakannya, tapi kau harus menjadi pendengar yang baik” unjarku
“ne…aku janji” jawabnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk, sepertinya dia sangat antusias mendengar ceritaku. Aku mulai menceritakan mengapa aku sering datang kesini, dengan sebab apa dan ketika kau menceritakan Hyonson, tanpa terkendali air mataku turun membasahi pipi, “Hyerin gwencana? Jangan memaksakan ceritamu kalau kau tak kaut untuk bercerita lagi” katanya cemas, “anni, mianhae aku masih sering mengigatnya” ucapku. Lalu kulanjutkan ceritaku kini Minho terlihat makin terlihat khawatir takut aku akan menagis tiba tiba lagi. Selesai mencaritakan semua aku tak kuasany menahanya lagi, kurasa Minho tau aku akan menangis lagi, “pakailah bahuku untuk meluapkan isi hatimu agar kau merasa lega dan sedikit terhilangkan bebanmu” ucapnya ia meminjamkan bahunya untukku menangis, aku pun menangis di bahu Minho. Hangat seperti Hyoson yang selalu meminjamkan bahunya ketika aku sangat membutuhkannya untuk mencurahkan isi hatiku. Aku merindukanya, sangat merindukanya. Minho mengelus rambutku membuatku semakin menangis mengigat Hyoson, “menangislah sepuasmu” bisiknya di telingaku. Bahu Minho basah karena airmataku entah berapa lama aku menagis, sekrang hatiku sudah sedikit lega. “ah, minhae bajumu jadi basah karenaku, dan Kamshamnida sudah meminjamkan bahumu” kataku berterima kasih. “gwencana Hyerin, aku malah senang membantumu. Bagaimana sudah merasa lega?” tanyanya, aku hanya menganggukan kepalaku, lalu menghapus sisa airmataku. “sebaiknya kita kembali ke kafe,kurasa Hyunsoo menunggumu” kata Minho, “ne..kita pulang” jawabku. Kami pun kembali ke kafe, lalu ketika sampai disana Hyunsoo dan Gikwang sudah selesai dengan pekerjaannya.
“wah, darimana saja kalian? Lama sekali?” tanya Hyunsoo pada kami,” hanya ke sungai Han, tapi kami hanya berbincang bincang saja, disana terlalu ramai” jawab Minho.
“jinjjayo?kau tak apa apakan Hyerin kan?”tanya Gikwang pada Minho
“yaa! Kau pikir aku lelaki mesum haa?” jawab Minho sedikit membentak, aku dan Hyunsoo hanya terkekeh mendengar Gikwang dan Minho berbicara.
“ah.. sudah hampir malam,sebaiknya kau dan Hyerin pulang, tak baik wanita pulang malam” Minho memperingatkan.
“ne.. kami pulang duluan ya, annyeong” pamit Hyunsoo, “annyeong” pamitku. “ne..hati-hati” jawab Minho dan Gikwang bersamaan.
Sesampainnya kami di apartemen, aku langsung menuju kamarku. Merebahkan tubuhku ke tempat tidurku, ku masih ingat bagaimana tapi Minho meminjamkan bahunya padaku, mengapa ada persamaan dengannya dan Hyoson, apa ini sebuah kebetulan? Entalah tapi belum ada yang bisa menggantikan Hyoson di hatiku, atau mungkin tidak ada yang bisa. Aku memajamkan mataku, tapu tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamarku, pasti Hyunsoo pikirku…dan ternyata aku salah, yang masuk kamarku adalah Minho!, kenapa ia bisa masuk? Apa Hyunsoo tak ada diluar? “mi..mianhae aku lancang, Hyunsoo yang menyuruhku” jawab Minho sebelum aku bertanya, “ah, Hyunsoo, ada apa Minho?”tanyaku. Minho pun sedikit mendekat,”aku hnya ingin mengembalikan ini” ia menunjukan handphoneku,”mianhae aku baru mengambalikannya sekarang,tadi aku lupa bilang padamu” lanjutnya. Aissh Hyerin kau ini terlalu larut dalam keadaan sampai handphonemu saja tertinggal. “kamshamnida Minho, aku memang ceroboh” aku berterima kasih pada Minho, “ne..cheomneyo, aku tak bisa berlama lama Gikwang sudah menunggu di bawah, aku pulang dulu ya, annyeong” pamitnya padaku. Setelah Minho pergi aku pun menghampiri Hyunsoo yang sedang menonton tv, “Hyun-ah, apa maksudmu tadi langsung menyuruh Minho masuk kedalam kamarku?” tanyaku seraya duduk disampingnya, “minahae Hyerin tadi aku sedang sibuk di dapur jadi langsung kusuruh masuk saja dia, di juga terlihat terburu buru, jadi tak mungkin kan ia harus menungguku?”jelasnya. “oh,baiklah. Tapi tidak lain kali” kataku menegaskan, Hyunsoo pun mengangguk menyetujuinya.
Esoknya kami kembali pada rutinitas kami,yaitu kuliah hari ini entah mengapa aku sangat malas masuk kuliah dengan malas aku meuju kamar madi dan bersiap untuk berangkat, sepertinya Hyunsoo sudah berangkat duluan. Ternyata benar dugaanku ia sudah pergi dan meninggalkan pesan di depan kulkas ‘aku berangkat duluan, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu tuan putri^^ bye’ begitu isinya. Sahabat yang baik ucapku sambil tersenyum.
Selesai sarapan aku pun segera berangkat ke kampusku. Hari ini ada mata pelajaran Kim songsenim hhh aku malas bertemu dengannya keluhku dalam hati. Sampai di kampus aku langsung menuju kelas Kim songsaenim, tapi betapa terkejutnya aku mendapati seseorang yang ku kenal disana, dia adalah Choi Minho. Mengapa iya berada disini? Jeongmal aku sangat bingung. Ia tersenyum padaku aku hanya membalasnya masih dengan tatapan tak percaya, dia pun mendekatiku
“kenapa kau menatapku seperti itu? ada yang salah dariku?” tanyanya padaku
“ah..ah anniyo,tidak ada yang aneh” jawabku, “lalu mengapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya lagi, aku menghela nafas “anni, aku hanya bingung kenapa kau bisa ada di sini?” jawabku datar
“hahaha mianhae aku tak memberitahumu dan membuatmu bingung,mulai sekarang aku satu fakultas denganmu, mohon bantuannya” ucap Minho seraya membungkukkan badan
“hemm, ne.. senang bisa membantumu” balasku dengan senyuman ia pun mebalasnya
“nanti siang kau ada acara Hyerin-ssi?” tanya Minho, “anniyo, waeyo?” jawabku singkat
“hemm, bisakah kita makan siang bersama?” tawarnya, mwo? Apa katanya,makan siang bersama? Aku baru pertama kali di ajak oleh seorang namja selain Hyoson.
“hemm, baiklah, nanti siang aku usahakan” aku mengiyakan ajakannya,
“jinjjayo? Ah gomawo Hyerin-ssi” katanya senang. Kim songsaenim pun masuk kekelas kami pelajaran pun di mulai
~~~~~…..
Jam makan siang pun datang, sesuai ajakan Minho tadi kami berdua makan siang bersama. Kami berdua saling menceritakan kepribadian masing masing, dan ternyata Minho adalah tipikel orang yang hangat dan humoris, namun di sisi lain ketika ia sedang serius dalam suatu hal dia akan menjadi seseorang yang tegas dan berwibawa. Dia sangat pintar memanfaatkan kelebihannya. Selesai makan siang Minho mengajakku ketempatnya berlatih sepak bola, ia memang masuk klub sepak bola di luar kampus dan ia sudah menjadi anggota klub itu dari 3 tahun yang lalu ketika ia masih tinggal di Korea . semenjak ia pindah ke Canada mengikuti orang tuanya ia meninggalkan Klub itu namun setelah orang tuanya mengizinkan ia untuk menetap di Koea lagi ia pun melanjutkan klub sepak bolanya. Awalnya aku menolak dengan alasan ingin menemani Hyunsoo namun Minho sudah mengatakan mengajak Hyunsoo dan Hyunsoo sudah berada disana, kadang aku sangat kesal dengan kelakuan Hyunsoo. Kami pun berangkat bersama, di dalam perjalanan kami berbincang bincang
“hyerin-ssi, kau suka berolahraga?” tanya nya,
“aku suka namun sekarang aku sudah kehilangan semangat untuk berolah raga” jawabku, ya aku memang wanita yang payah
“uhm? Waeyo?”tanya Minho dan ia menatapku heran
“sepertinya kau ingat aku pernah bercerita mangapa aku tak mempunyai semangat hidup lagi” kataku, sungguh sekarang aku sedang tak ingin membahas tetang Hyoson, aku lelah mengigatnya
“ah, ne..arraseo, tapi jangan terlalu seperti itu Hyyerin-ssi, kau masih punya sahabat yang selalu membuatmu menjadi bersemangat, kalau perlu aku juga akan membuatmu bersemangat,kau mau?” tawarnya padaku
“b..boe?,shirro tak perlu, mungkin memang sudah nasibku begitu”
“jangan menyalahkan nasibmu, kalau kau ingin berubah pasti nasibmu juga kan berubah” jelasnya. Pekataannya yang satu ini membuatku sedikit, tersadar memang benar ta seharusnya aku bersikap seperti ini terus. Tiba tiba suasana menjadi hending tak ada yang bicara diantara kami, hingga akhirnya kami sampai tujuan. Ketika turun darimobil Minho kulihat Hyunsoo sudah menunggu kami berdua.
“lama sekali kalian? Berkencan dulu ya?” tanya Hyunsoo yang membuat mataku terbelalak kaget, ‘apa maksudnya dengan berkencan, memang aku dan Minho punya hubungan apa? Aissh Hyunsoo awas’ gerutuku dalam hati
“mwo? Berkencan? Kau bercanda, kali ini candaanmu tak lucu Hyun” jawabku ketus dan berhasil membuat Hyunsoo diam. Minho yang mendengarnya haya diam tak berkomentar apa apa.
Aku dan Hyunsoo memperhatikan Minho bermain sepak bola, dia sungguh hebat. Tak sadar aku hanya senyum senyum sendiri melihat Minho bermain dan sekali kali berteriak saat ia berhasil mencetak angka. Sepertinya Hyunsoo menyadari keanehanku.
Hari semakin sore saatnya kami pulang. “hey, kalian pulang naik apa?” tanya Minho
“naik bus, waeyo?” tanya Hyunsoo, “mau kuantarkan, sebagai tanda terima kasih kalain sudah mau menemaniku latihan” jelasnya, Hyunsoo pun menyrtujuinya dan aku hanya mengangguk setuju. Didalam perjalanan Minho dan Hyunsoo banyak berbincang dan aku lebih memilih untuk diam lalu memperhatikan jalanan yang ramai. Sampailah di depan gedung apartemen kami
“kamshamnida Minho-ssi” Hyuna berterima kasih aku pun ikut berterima kasih
“ne…cheomaneyo, maaf tak bisa mampir malam ini,lain kali aku akan main maian ke apartemen kalian” katanya
“ah, ne..gwencana” jawab Hyunsoo, “annyeong” pamit Minho, kami berdua pun melambaikan tangan padanya.
Kami memasuki apartemen kami, seperti biasa kami sibuk dengan kegiatan masing masing, saat waktu santai kami, kami pun berbincang Hyunsoo bertanya padaku
“Hye-ah, sepertinya kau sekarang sudah akrab dengan Minho?”
“em? Apa begitu?”tayaku balik,aiish mulai lagi Hyunsoo berusaha untuk menghasutku agar aku melupakan Hyoson
“ya.. yang kulihat begitu, apa dia oarang yang baik?” tanyanya lagi, karena aku malas menjawab pertanyaanya akhirnya aku memperingati dia
“Hyunsoo, dengarkan aku. Bagaimana pun caramu mendekatkan kau dengan siapa pu mau itu Minho atau siapa pun, aku tak kan pernah bisa melupakan HYOSON! Dia malaikatku setengah nyawaku berada padanya, jadi jangan kau bersusah susah menyembuhkan ku dari keterpurukkan ini, percuma saja aku tidak akan melupakannya, dan posisi dia tak akan pernah tergantikan oleh siapapun” jelasku. Hyunsoo diam sejenak “baiklah kalau itu mau mu, aku hanya ingin membantumu keluar dari keterpurukkanmu, tapi sepertinya di luar dugaanku kau tak senang” jelas Hyunsoo ada sedikit perasaan bersalah setelah dia berbicara seperti itu. seetelah berbicara seperti itu ia pergi menuju kamarnya dan meninggalkanku sendiri di ruang TV. Apa aku salah berbicara? Aku hanya memberitahunya kalau tak ada yang bisa menggantikan Hyoson di hatiku sekarang. Aku pun menuju kamarku dan bersiap untuk tidur.
Esok pagi kurasa Hyunsoo sudah berangkat ke kampus duluan, dan tiba tiba handphoneku berdering, ada pesan dari Hyunsoo
From : Hyunnie
Maaf aku pergi duluan, makananmu ada di meja. Oya nanti malam aku akan pulang telat kerumah
Begitulah isi pesannya, tak seperti biasanya dia memberikan pesan singkat seperti ini. Otakku terus berfikir apa aku salah atas penjelasanku seemalam? Aku jadi mengingat perkataan Minho kemarin ‘masih ada sahabat yang mau membantumu bersemangat’ masih ada Hyunsoo yang mau membantuku keluar dari keterpurukkan, tapi kenapa malah aku yang membawanya masuk dalam keterpurukkanku? Sahabat macam apa aku ini, baiklah aku akan meminta maaf pada Hyunsoo malam ini, dan memberi kejutan padanya. Aku akan memasak makan kesukaannya.
Hari ini aku memutuskan untuk membuat spaghetti kesukkan Hyunsoo walau pun aku tak terlalu pandai memasak tetapi masakan ku lumayan hehe. aku pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan persediaan di kulkas kami sudah hampir habis, kurasa Hyunsoo lupa membelinya. Aku pergi ke supermarket terdekat. Ketika aku sedang memilih milih makanan tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundakku, aku melonjak kaget
“aaaa” kagetku, “yaa, sedang apa kau disini?” tanya seseorang yang mengagetkanku, ternyata dia adalah Gikwang
“mwo?kau mengagetkan saja, kau tak lihat aku sedang apa?” jelasku, Gikwang hanya tertawa mendengar ucapanku, “yaa, jangan tertawa! Tak ada yang lucu disini” bentakku, “ne.. aku tahu, tapi kenapa kau berbelanja sendiri? Memang Hyunsoo kemana?” tanyanya, “dia sedang sibuk dengan kuliahnya” jawabku dan kembali dengan kegiatanku yaitu memilih milih bahan makanan, “hemm tumben sekali dia sibuk” ucap Gikwang seperti ada nada tak percaya. “kau ingin memasak spaghetti? Kau bisa memasak?” tanyanya seperti tak percaya, “yaa,memangnya aku perempuan apa, sampai masak ini saja tak bisa, memangnya Hyunsoo saja yang bisa masak? Aku juga bisa!” kataku membela diri, Gikwang hanya terkekeh mendengar pembelaanku,” arraseo..arraseo, kalau begitu aku harus merasakan masakanmu” jawabnya, “baiklah kalau begitu, agar kau percaya!” tantangku
Selesai berbelanja aku dan Gikwang kembali ke apartemen, aku segera menyiapkan baan baan unutk ku memasak Gikwang juga ikut membantuku
“emm, kau tau Minho kemana? Tadi dia tidak kuliah” kataku membuka pembicaraan
“mollayo..kenapa kau tak menghubunginya saja?” saran Gikwang, aiss bagaimana aku bisa menghubunginya,selama ini kan aku tak terlalu dekat dengannya, “jangan bilang kau tak tau nomer telfonnya?” lanjut Gikwang. Hanya mengangguk mengiyakan perkataan Gikwang. Ia pun mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang, “ini, bicarala dengannya” Gikwang menyerakan handphonenya padaku, “ige mwoya?” tanyaku heran. “kajja” suruhnya
“yeobaseo?” jawab seseorang di seberang sana
“yeobaseo” jawabku, “Gikwang-ya, ada apa kau menelfonku?” tanya Minho di seberang sana
“a..ah Minho-ssi aku bukan Gikwang aku Hyerin, Mianhae mengganggumu” jawabku sedikit gugup, entah mengapa aku bisa sedikit gugup seperti ini
“mwo? Hyerin? Ada apa? Sedang bersama Gikwang kah?” tanya Minho lagi
“ne… dia ada di sebelaku, hemm aku hanya ingin bertanya kenapa kau tak masuk kuliah hari ini?” tanyaku langsung pada intinya, kulirik Gikwang sedang asik memakan spaghetti buatanku “maskatta” katanya, aku hanya tersenyum, aku kembali terfokus pada Minho,
“aku sedang kembali ke Canada menemui orang tuaku, mianhae aku tak memberi tahumu dulu” jelasnya, jadi dia sedang berada di Canada.
“ne..gwencana,sampai kapan kau disana?” tanyaku ramah
“haha ne.. 5 hari lagi aku kembali, waeyo? Kau merindukanku?” tanyanya, mwo? Kenapa orang ini percaya diri sekali?
“yaa! Percaya diri sekali kau? Aku hanya takut kau menjadi bahan pembicaraan siswa lain karena kau kan mahasiswa baru” jelasku
“arraseo,arraseo aku mengerti, baiklah aku ingin menemui orang tuaku dulu, bye~” Minho menutup telfonnya
“Kwanggie, gomawoyo” aku memberikan kemabli handphone Gikwang
“mwo? Barusan kau memanggilku apa?ULANGI !” bentaknya, aku terkekeh dan mengulanginya lagi
“Kwaggie, waeyo?”tanyaku meledek haha, “jangan pernah kau menyebutku dengan nama itu!” bentaknya kasar
“woow,waeyo. Bukankah itu bagus?” aku maasih meledeknya
“sekali lagi kau memanggilku dengan nama itu, jangan pernah kau harap hidupmu nayaman!” ancamnya. Mworago hahah lucu sekali namja ini seperti anak kecil cocok sekali dengan postur tubuhnya
“ah.. kasar sekali kau dengan wanita, arraseo aku takkan memanggilmu dengan sebutan KWANGGIE!” kataku sedikit menekankan kata ‘Kwanggie’, ia hanya mencibir mendengar perkataanku. Aku kembali ke dapur untuk melihat spaghetti buatanku. Tapi ternyata yanga aku temukan adalah piring kosong bekas Gikwang, aissh apapan anak ini menghabisi seluruh spaghetti buatanku, akukan bukan ingin membuatkan spaghetti untuknya. Aku pun memnaggil Gikwang
“YAAA! LEE GIKWANG, KENAPA KAU MEMAKAN SEMUA SPAGHETTINYA “ marahku padanya, aku menghampiri Gikwang dengan menunjukan piring kosong tersebut
“ya, pabo! Kenapa kau menghabiskan semua spaghetti ini, ini kan bukan untukmu tapi untuk Hyunsoo!” hardikku padanya
“mi…mianhae, aku lupa dengan itu, masakanmu terlalu lezat hihi” ucapnya seraya memamerkan gigi nya
“aissh jinjja!” keluhku, “uuu mianhaeyo Hyerin-ya” ucapnya dengan menunjukan wajah aegyonya
“jangan sok suci! Sekarang kau buatkan spaghetti ini lagi untuk Hyunsoo, harus persis seperti ini!” aku menyuruhnya
“mwo? Aku tak bisa!” tolaknya
“kalau kau semakin menolak, hidupmuu takkan aman!” ancamku
“b..bboe? kau berani mengancamku?”
“ppaliyeo!” kataku berteriak, “arraseo!” jawabnya tak kalah kencang
“kutinggal kau sebentar aku ingin kemini market, jangan macam macam!” aku memperingati
“ne..arraseo” jawabnya. Aku pun pergi keluar.
5 menit aku tinggal kan Gikwang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Aku mencoba mencicipi spaghetti buatannya. “hemm, lumayan untuk ukuran pemula” komentarku
“jinjja?ah kamshamnida” ia membungkukkan badan, “oya kenapa Hyunsoo belum pulang, lama sekali ia datang”
“mollayo, mungkin memang akan pulang telat” jawabku
“ah, kalau begitu aku pulang dulu ya sudah malam tidak baik seorang pria ada dirumah wanita dan hanya berduaan” jelasnya
“guwreyo! Ne.. annyeong” kataku
“annyeong” pamit Gikwang
Sudah hampir tengah malam tapi Hyunsoo belum juga pulang, aku sangat khawatir takut terjadi apapa dengannya, aku pun menatap spaghetti buatan Gikwang namun fikiranku pergi kemana mana. Aku masih berfikir kenapa Hyunsoo tak seperti biasanya. Dulu dia pernah seperti ini namun karena sedang bermasalah dengan Sungmin pacarnya, dia mengurung diri dikamarnya selama 1 setengah hari,sangat sulit membujuknya keluar namun setelah Sungmin meminta maaf kepadanya ia pun keluar kamar. Tiba tiba terdengar suara pintu terbuka.
“Hyunsoo? Kenapa malam sekali kau pulang darimana saja kau?” tanyaku khawatir
“anni,aku hanya kerumah temanku menyelesaikan tugas dari dosen” jawabnya singkat
“apa kau sudah makan malam? Aku membuatkan spaghetti untukmu” aku menunjukan spaghetti padanya
“hem, mianhae aku masih kenyang, sekarang aku sngat lelah ingin beristirahat” jawabnya dan pergi menuju kamarnya. “ne..jumuseyo, jaljayo” kataku , dia hanya membalasnya dengan tersenyum masam. Aneh sekali, aku kembali kekamarku dan merebahkan tubuhku, akan ku bicarakan semuanya besok dengan Hyunsoo. Pikirku
~~~~~~~~~~~~~~.
Esoknya aku bangun lebih pagi darinya dan menyiapkan sarapan. Kurasa Hyunsoo sudah bangun. Dan benar ia pun kaget melihatku,” tumben sekali kau bangun pagi?” tanyanya. “waeyo? Aku hanya ingin membantumu membuatkan sarapan” jawabku
“membantuku? Untuk apa? Aku bisa sendiri” jelasnya
“kau tinggal disini tak sendiri” jawabku singkat, “lalu kenapa? Baru kah kau sadar?” balasnya. Barukah kau sadr apa maksudnya? Aku tak mengerti
“maksudmu?” tanyaku, “jangan pura pura tak tahu Hyerin” jawabnya seraya meninggalkanku
“chamkkaman, apa maksudmu baru menyadarinya?”tanyaku lagi kini aku sudah berada di sampingnya. “aku tak ada waktu untuk berdebat” jawabnya singkat dan melepaskan ngenggamanku. Kali ini aku tak mau memaksanya terlalu pagi untuk bertengkar.
Hari ini Minho belum masuk dia masih berada di Canada, hh kenapa semakin hari aku semakin memperburuk keadaan ku, mulai dari Hyunsoo yang sudah tidak peduli denganku, lalu siapa yang akan menghiburku?Minho? dia tidak ada. Aku butuh Hyoson disaat seperti ini disaat aku sendiri. Kuputuskan untuk menemuinya, aku akan pergi menuju tempat peristirahatan terakhirnya
*pemakaman
“Hyo-ah aku datang, aku sangat merindukanmu” ucapku tanpa terasa air mataku sudah tak bisa di bendung lagi. Aku menangis di depan makam Hyoson. Aku ingat bagaimana iya selalu menghiburku dengan leluconnya memelukku hangat saat aku kedinginan. Aku sungguh merindukannya
“Hyo-ah aku ingin bercerita padamu” aku mulai bercerita pada Hyoson tetang apa yang aku alami tak lupa aku menceritakan tetang Minho pada Hyoson.
“mianhae Hyo aku aga merasa nyaman dengan Minho, apa dia pria yang kau kirimkan untuk menggantikanmu? Kalau iya aku masih belum bisa melupakan mu dan menerima dia di hatiku terlalu banyak kenangan yang kita buat bersama Hyo” ucapku, tangisku semakin pecah aku hanya bisa merudukan kepalaku merasakan air mataku jatuh ketanah. Tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundakku
“Hye-ah uljima, aku tak suka kau seperti ini” jawab seseorang. Aku menoleh kebelakang dann yang kudapati adalah Hyoson! Dia sangat putih bersih dan tak dapat disentuh
“uljima Hye-ah, kau benar kau sudah menemukan jawabannya, pria itu memang lebih baik dariku. Berbahagialah dengannya aku relakan kau dengannya, dan kau harus berjanji tidak boleh mengecewakannya demi aku, arraseo?” Hyoson tersenyum, aku sangat merindukan senyum hangatnya itu
“tapi aku masih belum bisa menerimanya Hyo,” jawabku
“cobalah belajar melupakan kenanganku dan coba buka hatimu untuknya, semakin kau tak bisa melepasku aku tak bisa tenang Hye, aku mohon aku cobalah, kau pasti bisa” jelas Hyoson, aku hanya mengangguk, lama kelama Hyoson menghilang dari pandanganku.
“kau tau Hyo-ah syaratmu itu terlalu sulit untuk ku penuhi, tetapi aku berjanji aku akan brusaha menepatinya” kataku
“kurasa cukup untuk hari ini, sebaiknya aku pulang dan berbicara baik baik dengan Hyunsoo. Annyeong” pamitku padanya
Aku pun kembali ke apartemenku, sama seperti kemarin Hyunsoo belum pulang,semoga saja dia tidak pulang larut lagi. Aku mengirimkan pesan pada Hyunsoo
To : Hyunnie
Jangan pulang terlalu malam Hyun-ah ada yang ingin aku bicarakan padamu, jebbal jangan menghindar
Begitu pesanku. Sudah 2 jam lebih aku menunggu balasan darinya tapi tak ada respon apapun darinya. Mungkin memang dia sedang sibuk, aku harus berfikir positif jangan menduga duga tanpa bukti aku tak mau memperburuk masalah. Hampir tengah malam tapi Hyunsoo belum juga pulang aku sudah menghubungi dia namun tak bisa, aku juga sudah menghubungi teman temannya namun hasilnya nihil tak ada yang tau dia dimana, jeongmal alu sangat menghawatirkan dia. Aku pun berniat mencarinya diluar namun cuaca tak mendukung, hujan deras tiba tiba datang. Aissh apa apaan ini? Ya tuhan bantu aku, bantu aku mencari Hyunsoo, aku putus asa sangat putus asa. Aku mencba merebahkan dan menenangkan fikiranku namun tak bisa! Aku khawatir dengan sahabatku Hyunsoo dia sudah ku anggap sebagai unnie, aku tak bisa lepas darinya. Aku hanya bisa menangis malam ini, ini semua terjadi karena kebodohanku. Aku menangis hingga kau terlelap
Esoknya, mataku sangat sembab, aku tak mungkin berangkat dengan keadaan seperti ini. Aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah hari ini, sepertinya aku merasa tidak enak badan hh kenapa cobaan ini datang bertubi tubi ! tiba tiba hanphoneku berdering
“yeobaseo” tanyaku
“yeobaseo, Hyerin? Kau dimana?” tanya seseorang di sebrang sana
“dirumah, kau siapa?” tanyaku, lalu seseorang itu menjawab “aku Hyunsoo mianhae aku tak pulang semalam” jelasnya
“mwo? Hyunsoo? Semalam kau kemana? Kenapa kau tak pulang sekarang aku sendiri dirumah” rengekku
“dengarkan aku Hyerin, Minhae semalam aku tak pulang karena aku menerima telfon dari eomma bahwa apa masuk rumah sakit, jadi sekarang aku berada di Tokyo, mian aku tak memberitahumu” jelasnya. Ah! Jadi sekarang Hyunsoo berada di Tokyo tanpa pamit padaku? Tega sekali dia, tanpa kusadari aku menitihkan airmata, sepertinya perasaanku mengatakan aku tak akan bisa meihat Hyunsoo lagi.
“sampai kapan kau berada disana, jangan lama lama aku kesepian disini” tanyaku
“sebulan, aku akan berada di sini sebulan, aku sudah memberitahukan orang tua mu, jadi mereka sudah tak khawatir lagi, dan kau kurasa sudah bisa mengurus dirimu sendiri bukan?”katanya sepertinya dia masih marah denganku
“Hyunsoo, aku masih marah denganku,jebbal jujur saja padaku aku tau aku yang salah, aku tak mau mencba membuka lembaran baru untuk orang lain, aku menyiayiakan waktu orang lain hanya untuk enghiburku namun aku justru meremehkannya. Mianhae Hyunsoo au mengaku aku yang salah aku akan berusaha untuk tak terus terpuruk dengan keadaanku sekarang” jelasku panjang lebar dengan suara isak tangisku
“Hyerin, uljima,lupakan itu semua. Aku sudah melupakannya” jawabnya singkat, “sudah ya eomma memanggilku” lanjutnya lalu menutup telfonya.kenapa Hyunsoo aneh sekali? Aku bertanya tanya
Ahh! Kepalaku berat sekali rasanya tak kuat hanya untuk berdiri, aku kehilangan keseimbanganku, aku terjatuh dan gelap. Apa mungkin ini akhir hidupku? Aku mohon tuhan jangan sekarang aku belum menepati janjiku……………
Perlahan ku buka mataku, tetapi aku merasa aku bukan di kamarku, setelah aku melihat sekelilingku benar dugaanku ini bukan kamarku. Aku berada diaman? Aneh sekali siapa yang membawaku ketempat ini?
“saengil chukahamnida, saengil chukahamnida” tiba tiba ada suara dari balik pintu dan ternyata itu adalah suara Hyunsoo,Minho dan Gikwang! Omona mengapa mereka ada di sini?
“saengil chukahamnida!” seru Hyunsoo yang dengan membawa kue ulang tahunku. Minho membantuku utuk duduk.
“kalian?kenapa kalian disini?” tanyaku masih bingung
“wae? Kau tak senang? Kalu begitu aku kembali ke Tokyo” ucap Hyunsoo
“anniyo, aku hanya bingung! Tolong jelaskan padaku, dan kau kenaa aku berada di sini? Bukankah kau sedang ada di Canada?” tanyaku lagi
“kau sangat lucu ketika bingung Hyerin” unjar Minho seraya mencubit lembut pipiku
“sebenarnya rencana kami gagal namun sepertinya tidak juga”kata Hyunsoo dan memainkan alisnya
“maksud kalian apa?”tanyaku lagi
“kamu percaya, aku dan Hyunsoo pergi ke Canada dan Tokyo?” yanya Minho
“ne… jangan bilang kalian mengerjaiku?” tebakku. Gikwang,Minho dan Hyunsoo hanya tertawa dan Gikwang menjawab “memang kentyataanya seperti itu” . aku menatap tajam keaarah mereka bertiga,”kenapa kalian tega sekali ha?” tanyaku sedikit membentak
“aaa,kami hanya ingin membuat kejutan padamu,m…mianhae” jawab Minho
“siapa yang mempunyai ide seperti ini” tanyaku seperti mengintrogasi. Gikwang dan Hyunso menujuk kearah Minho, jadi kau ya pelaku?
“jadi…” belum sempat aku berbicara Minho dengan cepat membungkan mulutku
“Hyunsoo,bisa kaluar sebentar” pinta Minho, “ne…” jawab Hyunsoo
“bisa aku bicara serius danganmu?” tanya Minho, aku hanya mengangguk
“kau tau ketika kemarin ku mengunjungi makan mantan kekasihmu aku memperhatikamu dari jauh, aku tak mendengar apa yang kau bicaarakan, tetapi setelah kau pulang aku berbicara denganya, aku meminta izin padanya untuk memilikimu dan mennjagamu, aku tau kauu belumbisa melupakan semua tentang nya namun aku akan setia membantumu agar kau melupakannya dengan perlahan dan belajar menerima orang lain” jelasnya. Aku tak bisa berkata apa apa, akau harus menepati janjiku.
“aku berjanji akan menjagamu seperti iya menjagamu dulu, aku akan mencintaimu dengan setulus hati, jadi apa kamu mau menerima aku?” tanyanya lagi, “ne.. aku menerimamu, tolong bantu aku dan gomawoyo atas janjimu” kataku tib tiba Minho memelukku dan aku membalas pelukannya dalam hatiku berkata ‘tenanglah Hyoson, aku akan menepati janjiku padamu’

ALHAMDULILLAH SELESAI! Senang (^o^) hahah
Maaf ya typo dan akhirnya ga jelas otakku udah stak banget haha
maaf lama bnget juga publishnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: